ibcindon | 21 Dec 12:49 2012
Picon

Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]

<*>[Attachment(s) from ibcindon included below]

Tionghoa di Indonesia Indah
Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
Posted in: Uncategorized. Leave a Comment

Oleh WAHYUDIN

Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
26 Agustus 2012, hal. 9

Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
Bambu, bukan di tanah air.

Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.

Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
sebagian warga Tionghoa di Indonesia.

Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
(Continue reading)

zhoufy | 21 Dec 14:29 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: "ibcindon" <ibcindon <at> rad.net.id>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 +0700
To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]

 


Tionghoa di Indonesia Indah
Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
Posted in: Uncategorized. Leave a Comment

Oleh WAHYUDIN

Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
26 Agustus 2012, hal. 9

Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
Bambu, bukan di tanah air.

Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.

Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
sebagian warga Tionghoa di Indonesia.

Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.

Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
republik ini bergantung gemericing gobang.

Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.

Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
pembangunan proyek TBTI?.

Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.

Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.

Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
berdasarkan fakta khayal belaka?

Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
Demonstran.

Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.

Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.

Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
kepentingan primordialisme.

Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
kehidupan masyarakat di negeri ini.

Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
ini.

Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)

*Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti
mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho 

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan
muslim juga yah ? 

--- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak
ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"! 
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg
membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat
patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika
dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak
pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka. 
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu
sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam
budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja. 
>  
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> 
> 
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> 
> Oleh WAHYUDIN
> 
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
> 
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
> 
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> 
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> 
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> 
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
> 
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> 
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
> 
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> 
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> 
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
> 
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
> 
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> 
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> 
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
> 
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
> 
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
> 
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> 
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@... 
    budaya_tionghua-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

bong_felix | 22 Dec 08:29 2012
Picon

Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.
Sent from BlackBerry® on 3
From: "long.march <at> rocketmail.com" <long.march <at> rocketmail.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah

budaya peranakan ? 

kasihan yang totok donk

kenapa tidak diringkas menjadi tionghoa saja 

--- In budaya_tionghua@..., bong_felix <at> ... wrote:
>
> Dear  member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah
anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi 
kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi
berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan
Tionghoa ?  Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita
dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di
Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya.
Kiranya harus  dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa,
karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya  bentuk bangunan
di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg
telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini
giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini
sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku
demi Indonesia baru. 
> Sent from BlackBerry® on 3
> 
> -----Original Message-----
> From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 
> To: <budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> 
> Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti
mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho 
> 
> Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan
muslim juga yah ? 
> 
> 
> 
> --- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at>  wrote:
> >
> > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak
ditonjolkan tdk jelas.
> > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"! 
> > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg
membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat
patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika
dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak
pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka. 
> > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu
sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam
budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja. 
> >  
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > Sender: budaya_tionghua@...
> > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 
> > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua@...>
> > Reply-To: budaya_tionghua@...
> > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> > 
> > 
> > Tionghoa di Indonesia Indah
> > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> > 
> > Oleh WAHYUDIN
> > 
> > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > 26 Agustus 2012, hal. 9
> > 
> > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > Bambu, bukan di tanah air.
> > 
> > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> > 
> > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> > 
> > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> > 
> > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > republik ini bergantung gemericing gobang.
> > 
> > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> > 
> > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > pembangunan proyek TBTI?.
> > 
> > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> > 
> > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> > 
> > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > berdasarkan fakta khayal belaka?
> > 
> > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > Demonstran.
> > 
> > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> > 
> > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> > 
> > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > kepentingan primordialisme.
> > 
> > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> > 
> > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > ini.
> > 
> > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> > 
> > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> >
>

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@... 
    budaya_tionghua-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

agoeng_set | 24 Dec 07:57 2012
Picon

Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Klenteng tuh bangunan khas tionghoa indonesia, dari berbagai suku pendatang membaur diklenteng + kearifan lokal juga dihormati diklenteng. Btw museum di chinatown sing itu bagus, menggambarkan kondisi dan sejarah waktu kedatangan tenglang ke sing, kenapa ga ada yg bikin model begitu?
From: "long.march <at> rocketmail.com" <long.march <at> rocketmail.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Mon, 24 Dec 2012 06:50:54 -0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

budaya peranakan ?

kasihan yang totok donk

kenapa tidak diringkas menjadi tionghoa saja

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, bong_felix <at> ... wrote:
>
> Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.
> Sent from BlackBerry® on 3
>
> -----Original Message-----
> From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14
> To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
>
> Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho
>
> Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?
>
>
>
> --- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> wrote:
> >
> > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
> >
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> >
> > -----Original Message-----
> > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> > Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> >
> >
> > Tionghoa di Indonesia Indah
> > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> >
> > Oleh WAHYUDIN
> >
> > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > 26 Agustus 2012, hal. 9
> >
> > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > Bambu, bukan di tanah air.
> >
> > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> >
> > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> >
> > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> >
> > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > republik ini bergantung gemericing gobang.
> >
> > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> >
> > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > pembangunan proyek TBTI?.
> >
> > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> >
> > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> >
> > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > berdasarkan fakta khayal belaka?
> >
> > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > Demonstran.
> >
> > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> >
> > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> >
> > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > kepentingan primordialisme.
> >
> > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> >
> > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > ini.
> >
> > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> >
> > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> >
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
zhoufy | 24 Dec 16:28 2012
Picon

Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: bong_felix <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
From: "long.march <at> rocketmail.com" <long.march <at> rocketmail.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
劉偉林 | 24 Dec 22:18 2012
Picon

Bls: Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Setuju dengan pandangan pak Zhou...
menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: zhoufy <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Mon, 24 Dec 2012 15:28:27 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: bong_felix <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
From: "long.march <at> rocketmail.com" <long.march <at> rocketmail.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah

Rumah Tjong A Fie ? 

Ngotot membangun arsitektur berciri sub-dialek sih wa rasa tidak pantas menyandang nama Tionghoa tanpa
keterwakilan dari hakka ; hokkian ; theochew ; konghu dll ;  

wa rasa kritik anda tepat sasaran ; dimulai dengan keutuhan tionghoa-nya sendiri lalu diambil sampel dari
bangunan perkumpulan ; kelenteng ; courtyard  , dan juga bangunan2 tionghoa lain mewakili tionghoa di
kalimantan ; di sumatera ; di jawa ; di sulawesi sebagai empat pulau besar ; 

--- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at> ... wrote:
>
> Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa
mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi.
Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan,
bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg
pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg
salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di
medan.dsb dsb.
> Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub
suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok
ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!
> 
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> 
> -----Original Message-----
> From: bong_felix <at> ...
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 
> To: budaya_tionghua@...<budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> 
> Dear  member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah
anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi 
kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi
berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan
Tionghoa ?  Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita
dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di
Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya.
Kiranya harus  dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa,
karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya  bentuk bangunan
di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg
telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini
giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini
sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku
demi Indonesia baru. 
> Sent from BlackBerry® on 3
> 
> -----Original Message-----
> From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 
> To: <budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> 
> Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti
mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho 
> 
> Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan
muslim juga yah ? 
> 
> 
> 
> --- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at>  wrote:
> >
> > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak
ditonjolkan tdk jelas.
> > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"! 
> > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg
membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat
patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika
dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak
pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka. 
> > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu
sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam
budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja. 
> >  
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > 
> > -----Original Message-----
> > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > Sender: budaya_tionghua@...
> > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 
> > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua@...>
> > Reply-To: budaya_tionghua@...
> > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> > 
> > 
> > Tionghoa di Indonesia Indah
> > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> > 
> > Oleh WAHYUDIN
> > 
> > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > 26 Agustus 2012, hal. 9
> > 
> > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > Bambu, bukan di tanah air.
> > 
> > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> > 
> > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> > 
> > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> > 
> > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > republik ini bergantung gemericing gobang.
> > 
> > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> > 
> > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > pembangunan proyek TBTI?.
> > 
> > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> > 
> > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> > 
> > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > berdasarkan fakta khayal belaka?
> > 
> > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > Demonstran.
> > 
> > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> > 
> > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> > 
> > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > kepentingan primordialisme.
> > 
> > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> > 
> > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > ini.
> > 
> > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> > 
> > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> >
>

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@... 
    budaya_tionghua-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Greysia | 27 Dec 02:55 2012
Picon

Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy-/E1597aS9LQAvxtiuMwx3w@public.gmane.org wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org>
> Reply-To: budaya_tionghua-hHKSG33TihhbjbujkaE4pw@public.gmane.org
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
劉偉林 | 27 Dec 03:02 2012
Picon

Bls: Re: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...
menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Delano J. Muntu | 27 Dec 06:24 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah




Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks & Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
agoeng_set | 27 Dec 06:34 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Jangan lupa rumah totoknya yah, biar gimana pun pas dateng tetep aja masih totok semua n pasti punya tmpt tinggal, ga mungkin dateng tiba2 jadi peranakan kan.
From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
劉偉林 | 27 Dec 06:37 2012
Picon

Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Ya rumah totok semodel siheyuan di tiongkok sana..saran saya buatin rumah yang ada tianjing alias chimcee-nya model 3 kamar, atau lima kamar model rumah minnan yang ada ekor waletnya diatapnya..itu sangat mantapp...
menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: agoeng_set <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:34:54 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Jangan lupa rumah totoknya yah, biar gimana pun pas dateng tetep aja masih totok semua n pasti punya tmpt tinggal, ga mungkin dateng tiba2 jadi peranakan kan.

From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
agoeng_set | 27 Dec 07:22 2012
Picon

Re: Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Jgn donk, rumah org totok pas sampe disini, banyak di daerah2 tenglang yg rumahnya macam komplek2 gitu kan, dari klenteng, rmh tinggal n rumah duka jadi 1 lokasi
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:37:51 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Ya rumah totok semodel siheyuan di tiongkok sana..saran saya buatin rumah yang ada tianjing alias chimcee-nya model 3 kamar, atau lima kamar model rumah minnan yang ada ekor waletnya diatapnya..itu sangat mantapp...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: agoeng_set <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:34:54 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Jangan lupa rumah totoknya yah, biar gimana pun pas dateng tetep aja masih totok semua n pasti punya tmpt tinggal, ga mungkin dateng tiba2 jadi peranakan kan.

From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
zhoufy | 27 Dec 08:15 2012
Picon

Re: Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Saya rasa tdk perlu membeda2kan rumah totok atau peranakan, yg penting rumah Tionghoa yg pernah dibangun di Indonesia. Bisa saja rumah seorang totok nampak lebih berwajah lokal krn keterbatasan bahan atau dana. Sedangkan bangunan yg berwajah asli Tiongkok yg punya ternyata malah peranakan!
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:37:51 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Ya rumah totok semodel siheyuan di tiongkok sana..saran saya buatin rumah yang ada tianjing alias chimcee-nya model 3 kamar, atau lima kamar model rumah minnan yang ada ekor waletnya diatapnya..itu sangat mantapp...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: agoeng_set <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:34:54 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Jangan lupa rumah totoknya yah, biar gimana pun pas dateng tetep aja masih totok semua n pasti punya tmpt tinggal, ga mungkin dateng tiba2 jadi peranakan kan.

From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Picon

Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah

bangun rumah bundar tulou maksudnya ? ; 
yah repot kalau membicarakan budaya dalam pengertian copy paste 100% ; sepertinya harus mengkaji kembali
makna budaya yang dinamis dan menyesuaikan dengan ruang dan waktu ; 

Tulou dibangun sebagai wujud kreativitas orang hakka terhadap kondisi yang khas di tanah leluhurnya ;
mereka datang dari utara ke selatan ; dan mengalami berbagai konflik dengan penduduk selatan ; karena itu
tulou bisa berdiri sesuai sikon ; menghadapi potensi konflik yang bisa muncul setiap saat sebagai "tamu"
di daerah tertentu; 

nah migrasi ke nanyang ; apa bangunan seperti tulou relevan untuk dibangun ? silahkan direnungkan saja ;  

Kalau waktu dibagi menjadi past ; present and future ; tenglang indonesia sering terjebak di zona masa
lampau dan memberikan porsi sedikit untuk kekinian ; entah apa yang membuatnya begitu ? krisis identitas
barangkali ; menunjukkan eksistensi dengan copy paste sehingga melenceng dari realitas ; 

 
> -----Original Message-----
> From: Greysia <greysiagreysia <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 
> To: budaya_tionghua@...<budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> 
> Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang
bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan
khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa
jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri
sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.
> 
> Greysia Susilo Junus
> 
> On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> ... wrote:
> 
> > Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg
bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg
bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan
perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah
terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong
semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa
namanya) di medan.dsb dsb.
> > Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub
suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok
ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!
> > 
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > From: bong_felix <at> ...
> > Sender: budaya_tionghua@...
> > Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
> > To: budaya_tionghua@...<budaya_tionghua@...>
> > ReplyTo: budaya_tionghua@...
> > Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> > 
> >  
> > Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah
anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi
kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi
berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan
Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita
dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di
Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya.
Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa,
karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan
di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg
telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini
giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini
sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku
demi Indonesia baru.
> > 
> > Sent from BlackBerry® on 3
> > From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> > Sender: budaya_tionghua@...
> > Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
> > To: <budaya_tionghua@...>
> > ReplyTo: budaya_tionghua@...
> > Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> > 
> >  
> > Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti
mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho 
> > 
> > Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu
bukan muslim juga yah ? 
> > 
> > --- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at>  wrote:
> > >
> > > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak
ditonjolkan tdk jelas.
> > > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"! 
> > > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg
membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat
patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika
dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak
pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka. 
> > > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu
sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam
budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja. 
> > > 
> > > Sent from my BlackBerry®
> > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > > 
> > > -----Original Message-----
> > > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > > Sender: budaya_tionghua@...
> > > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 
> > > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua@...>
> > > Reply-To: budaya_tionghua@...
> > > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> > > 
> > > 
> > > Tionghoa di Indonesia Indah
> > > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> > > 
> > > Oleh WAHYUDIN
> > > 
> > > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > > 26 Agustus 2012, hal. 9
> > > 
> > > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > > Bambu, bukan di tanah air.
> > > 
> > > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> > > 
> > > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> > > 
> > > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> > > 
> > > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > > republik ini bergantung gemericing gobang.
> > > 
> > > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> > > 
> > > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > > pembangunan proyek TBTI?.
> > > 
> > > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> > > 
> > > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> > > 
> > > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > > berdasarkan fakta khayal belaka?
> > > 
> > > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > > Demonstran.
> > > 
> > > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> > > 
> > > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> > > 
> > > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > > kepentingan primordialisme.
> > > 
> > > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> > > 
> > > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > > ini.
> > > 
> > > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> > > 
> > > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> > >
> > 
> >
>

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@... 
    budaya_tionghua-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

agoeng_set | 27 Dec 09:34 2012
Picon

Re: Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Klo daerah utan atau terpencil cocok, begitu jg daerah ga aman, buat jaga2 jd benteng sendiri tp daerah "umum" biarpun mau dan bisa, apa diijinin ma penguasa setempat diriin benteng di dalam kota?
From: "long.march <at> rocketmail.com" <long.march <at> rocketmail.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:29:06 -0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

bangun rumah bundar tulou maksudnya ? ;
yah repot kalau membicarakan budaya dalam pengertian copy paste 100% ; sepertinya harus mengkaji kembali makna budaya yang dinamis dan menyesuaikan dengan ruang dan waktu ;

Tulou dibangun sebagai wujud kreativitas orang hakka terhadap kondisi yang khas di tanah leluhurnya ; mereka datang dari utara ke selatan ; dan mengalami berbagai konflik dengan penduduk selatan ; karena itu tulou bisa berdiri sesuai sikon ; menghadapi potensi konflik yang bisa muncul setiap saat sebagai "tamu" di daerah tertentu;

nah migrasi ke nanyang ; apa bangunan seperti tulou relevan untuk dibangun ? silahkan direnungkan saja ;

Kalau waktu dibagi menjadi past ; present and future ; tenglang indonesia sering terjebak di zona masa lampau dan memberikan porsi sedikit untuk kekinian ; entah apa yang membuatnya begitu ? krisis identitas barangkali ; menunjukkan eksistensi dengan copy paste sehingga melenceng dari realitas ;

> -----Original Message-----
> From: Greysia <greysiagreysia <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52
> To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
>
> Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.
>
> Greysia Susilo Junus
>
> On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> ... wrote:
>
> > Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
> > Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!
> >
> > Sent from my BlackBerry®
> > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > From: bong_felix <at> ...
> > Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
> > To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> > ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> >
> >
> > Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.
> >
> > Sent from BlackBerry® on 3
> > From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> > Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
> > To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> > ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> >
> >
> > Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho
> >
> > Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?
> >
> > --- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> wrote:
> > >
> > > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> > > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> > > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> > > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
> > >
> > > Sent from my BlackBerry®
> > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > >
> > > -----Original Message-----
> > > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > > Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> > > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> > > Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> > > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> > >
> > >
> > > Tionghoa di Indonesia Indah
> > > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> > >
> > > Oleh WAHYUDIN
> > >
> > > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > > 26 Agustus 2012, hal. 9
> > >
> > > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > > Bambu, bukan di tanah air.
> > >
> > > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> > >
> > > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> > >
> > > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> > >
> > > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > > republik ini bergantung gemericing gobang.
> > >
> > > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> > >
> > > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > > pembangunan proyek TBTI?.
> > >
> > > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> > >
> > > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> > >
> > > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > > berdasarkan fakta khayal belaka?
> > >
> > > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > > Demonstran.
> > >
> > > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> > >
> > > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> > >
> > > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > > kepentingan primordialisme.
> > >
> > > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> > >
> > > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > > ini.
> > >
> > > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> > >
> > > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> > >
> >
> >
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Picon

Bls: Re: Tionghoa di Indonesia Indah

kasus menarik lo fang pak yang sempat dominan di kalbar ; semestinya ada potensi membangun tulou di kalbar ;
tapi gak kompatibel kale yah dengan kondisi waktu itu ; 

--- In budaya_tionghua@..., agoeng_set <at> ... wrote:
>
> Klo daerah utan atau terpencil cocok, begitu jg daerah ga aman, buat jaga2 jd benteng sendiri tp daerah
"umum" biarpun mau dan bisa, apa diijinin ma penguasa setempat diriin benteng di dalam kota?
> -----Original Message-----
> From: "long.march <at> ..." <long.march <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua@...
> Date: Thu, 27 Dec 2012 08:29:06 
> To: <budaya_tionghua@...>
> Reply-To: budaya_tionghua@...
> Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah
> 
> bangun rumah bundar tulou maksudnya ? ; 
> yah repot kalau membicarakan budaya dalam pengertian copy paste 100% ; sepertinya harus mengkaji
kembali makna budaya yang dinamis dan menyesuaikan dengan ruang dan waktu ; 
> 
> Tulou dibangun sebagai wujud kreativitas orang hakka terhadap kondisi yang khas di tanah leluhurnya ;
mereka datang dari utara ke selatan ; dan mengalami berbagai konflik dengan penduduk selatan ; karena itu
tulou bisa berdiri sesuai sikon ; menghadapi potensi konflik yang bisa muncul setiap saat sebagai "tamu"
di daerah tertentu; 
> 
> nah migrasi ke nanyang ; apa bangunan seperti tulou relevan untuk dibangun ? silahkan direnungkan saja ;  
> 
> Kalau waktu dibagi menjadi past ; present and future ; tenglang indonesia sering terjebak di zona masa
lampau dan memberikan porsi sedikit untuk kekinian ; entah apa yang membuatnya begitu ? krisis identitas
barangkali ; menunjukkan eksistensi dengan copy paste sehingga melenceng dari realitas ; 
> 
>  
> > -----Original Message-----
> > From: Greysia <greysiagreysia <at> >
> > Sender: budaya_tionghua@...
> > Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 
> > To: budaya_tionghua@...<budaya_tionghua@...>
> > Reply-To: budaya_tionghua@...
> > Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> > 
> > Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang
bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan
khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa
jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri
sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.
> > 
> > Greysia Susilo Junus
> > 
> > On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at>  wrote:
> > 
> > > Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg
bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg
bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan
perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah
terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong
semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa
namanya) di medan.dsb dsb.
> > > Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri
sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang
kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!
> > > 
> > > Sent from my BlackBerry®
> > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > > From: bong_felix <at> 
> > > Sender: budaya_tionghua@...
> > > Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
> > > To: budaya_tionghua@...<budaya_tionghua@...>
> > > ReplyTo: budaya_tionghua@...
> > > Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> > > 
> > >  
> > > Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah
anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi
kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi
berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan
Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita
dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di
Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya.
Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa,
karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan
di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg
telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini
giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini
sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku
demi Indonesia baru.
> > > 
> > > Sent from BlackBerry® on 3
> > > From: "long.march <at> " <long.march <at> >
> > > Sender: budaya_tionghua@...
> > > Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
> > > To: <budaya_tionghua@...>
> > > ReplyTo: budaya_tionghua@...
> > > Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah
> > > 
> > >  
> > > Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti
mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho 
> > > 
> > > Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu
bukan muslim juga yah ? 
> > > 
> > > --- In budaya_tionghua@..., zhoufy <at>  wrote:
> > > >
> > > > Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak
ditonjolkan tdk jelas.
> > > > Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"! 
> > > > Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg
membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat
patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika
dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak
pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka. 
> > > > Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu
sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam
budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja. 
> > > > 
> > > > Sent from my BlackBerry®
> > > > powered by Sinyal Kuat INDOSAT
> > > > 
> > > > -----Original Message-----
> > > > From: "ibcindon" <ibcindon <at> >
> > > > Sender: budaya_tionghua@...
> > > > Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53 
> > > > To: budaya_tionghua<budaya_tionghua@...>
> > > > Reply-To: budaya_tionghua@...
> > > > Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
> > > > 
> > > > 
> > > > Tionghoa di Indonesia Indah
> > > > Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> > > > Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
> > > > 
> > > > Oleh WAHYUDIN
> > > > 
> > > > Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> > > > 26 Agustus 2012, hal. 9
> > > > 
> > > > Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> > > > Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> > > > pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> > > > Bambu, bukan di tanah air.
> > > > 
> > > > Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> > > > tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> > > > dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> > > > trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> > > > patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
> > > > 
> > > > Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> > > > patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> > > > dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> > > > kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> > > > sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
> > > > 
> > > > Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> > > > yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> > > > rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> > > > dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> > > > melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> > > > Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
> > > > 
> > > > Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> > > > Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> > > > prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> > > > mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> > > > sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> > > > Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> > > > politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> > > > republik ini bergantung gemericing gobang.
> > > > 
> > > > Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> > > > Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
> > > > 
> > > > Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> > > > pembangunan proyek TBTI?.
> > > > 
> > > > Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> > > > atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> > > > Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> > > > simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> > > > jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> > > > bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> > > > yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
> > > > 
> > > > Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> > > > sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> > > > laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> > > > melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> > > > secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> > > > Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
> > > > 
> > > > Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> > > > diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> > > > ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> > > > penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> > > > berdasarkan fakta khayal belaka?
> > > > 
> > > > Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> > > > pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> > > > intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> > > > kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> > > > bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> > > > Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> > > > yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> > > > itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> > > > Demonstran.
> > > > 
> > > > Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> > > > pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> > > > kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> > > > ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
> > > > 
> > > > Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> > > > kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> > > > yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> > > > Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
> > > > 
> > > > Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> > > > glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> > > > Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> > > > TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> > > > dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> > > > suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> > > > kepentingan primordialisme.
> > > > 
> > > > Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> > > > Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> > > > pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> > > > rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> > > > Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> > > > kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> > > > minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> > > > kehidupan masyarakat di negeri ini.
> > > > 
> > > > Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> > > > orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> > > > mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> > > > telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> > > > hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> > > > ini.
> > > > 
> > > > Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> > > > orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> > > > kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> > > > tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> > > > pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
> > > > 
> > > > *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> > > > Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
> > > >
> > > 
> > >
> >
>

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest@... 
    budaya_tionghua-fullfeatured@...

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe@...

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Delano J. Muntu | 27 Dec 06:43 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Anyway.. Ada yg penah dateng ksana belum sih baru-baru ini? Jujur sy ud lama bgt ngga ksana.. Klo ada yg pernah ksana recently, upload fotonya dong, penasaran ni kaya apa sih bentuknya.

Setuju juga dengan rumah totoknya :)

Thanks & Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: agoeng_set <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:34:54 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Jangan lupa rumah totoknya yah, biar gimana pun pas dateng tetep aja masih totok semua n pasti punya tmpt tinggal, ga mungkin dateng tiba2 jadi peranakan kan.

From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
zhoufy | 27 Dec 08:07 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Saat membahas arsitektur Tionghoa Indonesia, sebaiknya cermat menggunakan istilah. Istilah Tionghoa peranakan lebih tepat disemakkan ke gol tionghoa yg sdh terakulturisasi oleh budaya setempat. Rumah2 kayu bangka atau ruko2 di jawa tdk termasuk kategori Itu.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
Delano J. Muntu | 27 Dec 08:22 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah



Terima kasih koreksinya, maksud sy hanya ingin menunjukan kepada generasi-generasi yg akan datang, bahwa begini lho bentuk rumah-rumah warga tionghoa ketika pertama kali datang ke Indonesia.. Itu aja sih.. Tp klo memang itu tidak masuk katagori ini ya tdk apa-apa..

Tujuan akhirnya kan sejarah, budaya dan adat-istiadat harus tetap terjaga..walaupun dlm bingkai kesatuan negara Indonesia. Krn klo bukan kita-kita yg melestarikan, siapa lagi? Hehe.. :) CMIIW



Thanks & Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: zhoufy <at> yahoo.com
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 07:07:09 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 

Saat membahas arsitektur Tionghoa Indonesia, sebaiknya cermat menggunakan istilah. Istilah Tionghoa peranakan lebih tepat disemakkan ke gol tionghoa yg sdh terakulturisasi oleh budaya setempat. Rumah2 kayu bangka atau ruko2 di jawa tdk termasuk kategori Itu.

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
From: "Delano J. Muntu" <delanomuntu <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 05:24:24 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah

 


Usul juga ni, sudah ada replika rumah tionghoa peranakan belum ya disana? Trus gimana juga klo di buat replika rumah kayu ketika jaman kedatangan masyarakat tionghoa ke Indonesia seperti banyak terlihat di daerah-daerah seperti bangka dll.

Correct Me If I'm Wrong (CMIIW)

Thanks Regards
DELANO J. MUNTU | delanomuntu <at> yahoo.com



Powerd by GOD ALMIGHTY
---
Simplicity is not a simple thing. -Charles Chaplin-
From: "劉偉林" <weilin_liu889 <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 02:02:21 +0000
To: <budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Bls: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Lebih bagus bikin rumah kayu semodel rumah kebaya..itu lebih mencerminkan bangunan tionghoa indonesia...

menghormati shenming, leluhur dan para suci
From: Greysia <greysiagreysia <at> yahoo.com>
Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Date: Thu, 27 Dec 2012 08:55:52 +0700
To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
ReplyTo: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dan saya setuju dengan sebagian isi tulisan bahwa tidak cocok sama sekali bangunan rumah hakka yang bundar itu terwujud di indonesia. Sepanjang ratusan tahun sejarah orang tionghoa di indonesia, dan khusunya orang hakka, tidak ada bukti bahwa nenek mouang kami membuat rumah seperti itu disini. Ini bisa jadi bahan tertawaan masyarakat tionghoa secara luas. Dianggapnya orang hakka mau membanggakan diri sebagai sub suku yang 'berbeda', padahal tidak demikian adanya.

Greysia Susilo Junus

On 24 Des 2012, at 22:28, zhoufy <at> yahoo.com wrote:

 

Kapling taman budaya tionghoa konon sangat luas. Jadi tdk perlu pusing mencari satu2nya bangunan yg bisa mewakili Budaya Tionghoa Indonesia. Kita toh bisa mencari berbagai typologi bangunan yg bervariasi. Misalnya bangunan rumah tinggal, di darat dan di pesisir, bangunan perniagaan, bangunan perkumpulan, bangunan peribadatan dll. Untuk lebih konkrit, bisa dicari contoh bangunan bersejarah terkenal yg pernah ada di Indonesia. Misalnya chandra naya sbg wakil bangunan perkumpulan, sampokong semarang sbg salah satu contoh bang. Ibadah. Rumah2 courtyard di parakan, rumah kapiten(mendadak lupa namanya) di medan.dsb dsb.
Dalam sejarah, apakah arsitektur bangunan Tionghoa yg ada di Indonesia sangat memperlihatkan ciri sub suku seperti hokkian hakka dsb yg sangat nyolok? Saya rasa tidak ada. Jika demikian, utk apa sekarang kok ngotot membuat arsitektur berciri sub suku? Ini menandakan yg membuat tdk sadar sejarah!

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Date: Sat, 22 Dec 2012 07:29:01 +0000
Subject: Re: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Dear member budaya Tionghoa, saya tidak anti dengan pola pikir rekan rekan semua, cuma ....... tahukah anda ? Untuk mempresentasikan satu kebudayaan dari kemajemukan bukanlah hal yang gampang apalagi kebudayaan peranakan Tionghoa. Apakah diantara anda yang tergolong pintar dalam mengkritisi berdirinya TBTI bisa memberikan satu bentuk awal bangunan yang 100% mempresentasikan peranakan Tionghoa ? Adalah mustahil bahwa kita kaum Tionghoa di Indonesia bisa 100% melepaskan keterikatan kita dengan budaya leluhur, baik dari sisi filosofis, kultur maupun kebiasaan kebiasaan luhur . Tionghoa di Indonesia terdiri dari beragam suku dan sub suku dan masing masing suku sudah berbeda pola kehidupannya. Kiranya harus dapat dipahami kalau ada suku tertentu yg sangat concent dengan kebudayaan Tionghoa, karena secara financial memungkinkan utk itu disamping kepedulian tentunya. Kiranya bentuk bangunan di TBTI jangan dipermasalahkan lagi, apa yg sudah ada kita terima apa adanya dan kepada mereka mereka yg telah berjuang demi sepetak tanah di TMII pun kita berikan penghargaan yg setinggi tinggi nya. Kini giliran kita untuk berpartisipasi dalam mengisi TBTI dengan berbagai ragam budaya yang kita yakini sebagai budaya peranakan Tionghoa di Indonesia. Mari kita satukan diri dari keberagaman etnis dan suku demi Indonesia baru.

Sent from BlackBerry® on 3
Date: Fri, 21 Dec 2012 15:26:14 -0000
Subject: [budaya_tionghua] Re: Tionghoa di Indonesia Indah

 

Yang mengejutkan lagi rupanya si penulis selain berbau ideologis juga berbau religi . seperti mempermasalahkan ritus2 non-islam Cheng-Ho

Memangnya masyarakat tertentu di Jawa yang suka ritus terhadap penguasa lautan dilaut selatan itu bukan muslim juga yah ?

--- In budaya_tionghua <at> yahoogroups.com, zhoufy <at> ... wrote:
>
> Memang benar taman budaya tionghoa dari konsep hingga perencanaannya amburadul. Entah apa yg hendak ditonjolkan tdk jelas.
> Tapi saya juga tdk sepenuhnya setuju dng pandangan si penulis ini, yg terlalu berbau"ideologis"!
> Taman budaya Tionghoa, sebaiknya lebih menonjolkan budaya dan sejarah tionghoa budayalokal yg membumi, itu saya sepenuhnya setuju, tapi itu bukan karena alasan ideologi pembauran maupun semangat patriotik! Saat bicara budaya, kita tak perlu menyinggung2 hal2 politis ideologis semacam itu, jika dibebani hal2 semacam itu, budaya akan terdistorsi. Toh anjungan berbagai daerah Nusantara pun tak pernah berpikir ttg hal2 spt itu saat memamerkan budaya lokal mereka.
> Kami memilih memamerkan budaya tionghoa yg membumi, sepenuhnya murni melihat dari aspek budaya itu sendiri. Dng memilih budaya lokal yg membumi, kita lebih mampu jujur bercermin, menampilkan ragam budaya yg lebih otentik dan lebih unik , yg lebih punya nilai2 historis. Itu saja.
>
> Sent from my BlackBerry®
> powered by Sinyal Kuat INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: "ibcindon" <ibcindon <at> ...>
> Sender: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Date: Fri, 21 Dec 2012 18:49:53
> To: budaya_tionghua<budaya_tionghua <at> yahoogroups.com>
> Reply-To: budaya_tionghua <at> yahoogroups.com
> Subject: [budaya_tionghua] Tionghoa di Indonesia Indah [1 Attachment]
>
>
> Tionghoa di Indonesia Indah
> Posted by indonesia seutuhnya on August 26, 2012
> Posted in: Uncategorized. Leave a Comment
>
> Oleh WAHYUDIN
>
> Dimuat di Jawa pos, Minggu 26 Agustus 2012, hal. 8 dan di Indo pos, Minggu
> 26 Agustus 2012, hal. 9
>
> Bertandang ke Taman Budaya Tionghoa Indonesia (TBTI) di Taman Mini Indonesia
> Indah TMII), ketika Jakarta sedang dalam masa tenang putaran pertama
> pemilihan gubernur, 9-10 Juli lalu, saya seolah berada di Negeri Tirai
> Bambu, bukan di tanah air.
>
> Sejauh mata memandang, yang tampak adalah pemandangan yang rasanya tak asing
> tapi berjarak dari sini. Sosok dan pokok yang tersua di sana "berasal" dari
> dunia kahyangan dan mitologi. Sebagian besar terupakan dalam bentuk
> trimarta, monumen atau patung batu. Sebutlah, misalnya, patung Dewi Bulan,
> patung Sampek Engtay, dan monumen Kera Sakti Sun Go Kong.
>
> Sesungguhnya tak ada yang istimewa, palagi menggetarkan dari monumen dan
> patung patung itu. Tapi saya tetap mengapresiasi sebagai ekspresi simbolis
> dari kepercayaan terhadap nilai-nilai luhur, cinta kasih tak tepermanai, dan
> kebijaksanaan abadi, yang masih dipegang dan dipelihara dengan baik oleh
> sebagian warga Tionghoa di Indonesia.
>
> Karena itulah, saya mencoba menghalau perasaan seperti seekor anak garuda
> yang tersesat di kandang naga nan gadang. Sekalipun belum sepenuhnya
> rampung, TBTI telah dirancang bangun di atas tanah seluas 4,5 hektar dengan
> dana miliaran, bahkan triliunan rupiah. Kelak, bila selesai, TBTI akan
> melampui luas beberapa anjungan lain di TMII, termasuk anjungan Sumatera
> Barat yang kondang dengan miniatur Rumah Gadang.
>
> Adalah Haji Muhammad Soeharto yang merestui rancang bangun yang dipesan dari
> Xiamen, Tiongkok, tersebut. Mantan penguasa orde baru itu pula yang meneken
> prasasti batu proyek pembangunan TBTI pada 8 November 2006. Sungguh
> mengejutkan. Sebab, tentu kita tahu, Indonesia pada masa Orde Baru adalah
> sebuah negeri tempat orang Tionghoa senantiasa berada dalam keadaan genting.
> Bagi sang Jendral Besar dan segenap aparatur jajarannya, Tionghoa adalah
> politik syak wasangka akan sang liyan yang setia dan dustanya kepada
> republik ini bergantung gemericing gobang.
>
> Tampaknya, di pengujung hayat atau dua tahun sebelum berkalang tanah, "The
> Smiling General" itu telah "berdamai" dengan kebudayaan Tionghoa.
>
> Namun, pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi proyek nasional
> pembangunan proyek TBTI?.
>
> Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah kebanggaan diri akan identitas
> atau jati diri yang tunggal, lurus, dan murni sebagai "orang Tionghoa
> Indonesia", bukan "orang Indonesia Tionghoa". Barangkali karena itulah
> simbol bangsa dan negara Republik Indonesia tampak terabaikan di sini. Tak
> jauh dari pintu gerbang yang didatangkan dari Xiamen itu, terpacak tiang
> bendera dari baja putih mengilap. Di puncaknya terikat bendera merah putih
> yang, sayangnya, sudah lusuh dan sobek di ujung warna putihnya.
>
> Sementara itu, saya menemukan sejumlah hal mengejutkan lainnya. Hanya
> sepelemparan batu dari monumen Kera Sakti Sun Go Kong, berdiri patung
> laksamana Cheng Ho dengan jubah kebesaran dan museumnya yang nyaris
> melompong. Di dalamnya hanya ada beberapa salinan murah, kalau bukan buruk
> secara estetik, lukisan perjalanan sang kasim Muslim ke sejumlah kerajaan di
> Afrika dan Asia, termasuk ke Kerajaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15.
>
> Apa yang mengejutkan?. Dalam salah-dua salinan gambar itu, kita
> diperlihatkan bahwa sekalipun beragama Islam, Ceng Ho masih melakukan
> ritus-ritus non-Islam seperti mempersembahkan sesaji ke penguasa surga dan
> penguasa gaib lautan. Saya tidak tahu apakah sang pelukis membuat gambar itu
> berdasarkan fakta khayal belaka?
>
> Yang tak kalah mengejutkan, kalau bukan mengenaskan, di sebuah ruang dekat
> pintu masuk museum itu, terpajang beberapa foto mendiang pejuang,
> intelektual, serta aktivis mahasiswa keturunan Tionghoa mulai masa
> kemerdekaan hingga masa reformasi. Tapi kebanyakan bingkainya sudah aus,
> bahkan ada yang telah lepas. Di antaranya, foto Soe Hok Gie, adik kandung
> Arief Budiman alias Soe Hok Djin, aktivis Golongan Putih dan cendekiawan
> yang paling lantang menentang rencana pembangunan TMII pada akhir 1971. Foto
> itu sebelumnya saya lihat dalam bukunya yang terkenal, Catatan Sang
> Demonstran.
>
> Pada titik itu, timbul pertanyaan: apa gerangan yang ada dalam pikiran
> pengelola TBTI, sampai sampai mengasi anakronisme di museum itu?. Apa
> kiranya pemahaman kebangsaan mereka, sehingga mengedepankan Cheng Ho
> ketimbang John Lie atau Soe Hok Gie atau Hendrawan Sie?.
>
> Terlalu ingin mendapat jawabannya, pertanyaan pertanyaan tersebut justru
> kian berdengung kencang di pintu gerbang TBTI yang "dijaga" dua patung naga
> yang didatangkan dari Xiamen, dan terlebih di proyek pembangunan Museum
> Hakka yang berarsitektur rumah tradisional suku Hakka, Tiongkok.
>
> Yang tampak disana bukanlan nostalgia kampung halaman nan sayu, melainkan
> glorifikasi diri yang menggemuruh untuk menghablurkan rupa negeri leluhur.
> Itulah anakronisme paling telanjang yang tak malu malu di pertontonkan di
> TBTI. Itulah simbol apa yang disebut pakar ilmu politik Harold R. Isaacs
> dengan "pemujaan terhadap kelompok etnis", dalam hal ini "pemujaan terhadap
> suku Hakka". Itulah politik representasi yang mencatut kebudayaan demi
> kepentingan primordialisme.
>
> Karena itu, terjadilah pengingkaran politik atas sejarah dan budaya orang
> Tionghoa sendiri. Dengan menonjolkan suku Hakka, tampak benar kehendak
> pengelola TBTI untuk meringkus-rangkum orang Tionghoa di Indonesia dalam
> rumusan tunggal dan baku. Padahal sebagaimana pernah diungkapkan sejarawan
> Onghokham, orang Tionghoa di Indonesia bukanlah kelompok homogen. Bahkan,
> kebanyakan dari mereka ingin menghilangkan identifikasi sebagai anggota
> minoritas dengan cara bercampur baur hingga lebur dalam segala wujud
> kehidupan masyarakat di negeri ini.
>
> Karena itu, betapa pun luasnya, TBTI musykil mempresentasikan kemajemukan
> orang Tionghoa di Indonesia. Karena itu pula, seyogianya pengelola TBTI
> mengindahkan rasa prihatin kebanyakan orang Indonesia Tionghoa: mereka yang
> telah menyabur limbur selama berabad-abad dengan sikap santun dan rendah
> hati di negeri ini dengan kesetiaan teguh kukuh lapis baja untuk republik
> ini.
>
> Karena itu, sudah seharusnya pengelola TBTI tak bersikukuh dengan segelintir
> orang Tionghoa Indonesia yang bermental kesukuan: mereka yang mencari-dapat
> kekayaan dan kekuasaan di negeri ini, tetapi mencintai leluhurnya di
> tiongkok dan tak mau membuka hatinya untuk negeri ini, alih alih menuntut
> pengakuan agar sukunya diterima di negeri ini dengan tempik sorak.(*)
>
> *Wahyudin adalah Peminat Kajian Budaya , Kurator. Magister Antropologi UGM
> Jogja dan Aktifis pemuda pada kepekaan sosial dan seni budaya
>



__._,_.___

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.





Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___
bsutiono | 25 Dec 02:54 2012
Picon

Re: Tionghoa di Indonesia Indah

Membaca tulisan Wahyudin, saya menjadi bertanya-tanya

 Apakah penulis akan mempermasalahkan juga kalau ada anjungan budaya arab dan sejarah masuknya budaya
arab di Indonesia?? 

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

------------------------------------

.: Forum Diskusi Budaya dan Sejarah Tionghua :.

.: Website global http://www.budaya-tionghoa.net :.

.: Pertanyaan? Ajukan di http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua :.

.: Arsip di Blog Forum Budaya Tionghua http://iccsg.wordpress.com :.

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/budaya_tionghua/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    budaya_tionghua-digest <at> yahoogroups.com 
    budaya_tionghua-fullfeatured <at> yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    budaya_tionghua-unsubscribe <at> yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/


Gmane